C E
R A I
Ditatapnya diam
diam wajah mas Dani. Rindu tak bisa mengartikan apa yang tersirat di wajah mas
Dani saat itu. Perasaan bingung, marah, sedih dan entah apa lagi setelah dia
mengucapkan kata demi kata dari bibirnya yang terpoles tipis oleh gincu merah
muda. Dialihkannya pandangan pada ketiga anaknya Rian, Dini dan si bungsu Agus
yang baru saja melangsungkan pernikahannya 3 bulan yang lalu. Mereka tertunduk
lesu dengan sejuta kecamuk dalam dada. Rindu memahami perasaan mereka
terhadapnya, walaupun beberapa hari yang lalu mereka sudah diberi bayangan
tentang hal ini.
“ Ibu hanya ingin ketenangan dimasa tua ibu, ibu telah
mengantarkan kalian sampai ke gerbang kehidupan kalian yang baru, berarti
tanggung jawab membesarkan kalian sudah berakhir, dan kini sudah ada yang lebih
bertanggung jawab daripada ibu dan bapak dalam kehidupan kalian “.
Mas Dani masih
diam membisu, dan Rindu belum berani untuk memancingnya berbicara, seandainya
dinding-dinding ruang keluarga yang dijadikan tempat berkumpul saat ini dapat
bergerak mungkin hanya Rindu yang akan dihimpitnya karena kemarahan terhadap
seorang ibu yang memberikan keputusan tidak masuk akal bagi anak-anaknya.
Dengan gerak lesu mas Dani
beranjak dari duduknya dan berjalan gontai menuju teras samping seperti sebuah
robot yang berjalan tanpa tenaga.
“ mas, mau kemana ? “
Mas Dani menoleh sesaat tanpa ekspresi dan terus berjalan ke bawah
pohon rambutan dan duduk dibangku kayu yang dibuatnya setengah tahun lalu untuk
mereka berdua duduk bersantai menunggu waktu.
“ Ibu sudah membuat kami
malu ! “, ibu tak punya perasaan, apa yang ada di pikiran ibu sehingga senekad
ini, ibu tidak kasihan dengan bapak ?! “, dengan kami, dengan cucu-cucu ibu,
dengan keluarga yang lain….. ibu tidak serius mengatakan ini kan ?! “ seketika Dini meronta dari
cengkraman kemarahan, meledak-ledak seperti lumpur panas yang keluar dari perut
bumi, meluncur dan memercik ke kanan kiri, sehingga Rindu yang berada
disampingnya seperti lebur dan tergigit oleh percikan panas kemarahan.
Terasa nyeri didalam dada,
Rindu seperti dipukul oleh anaknya sendiri, kecewakah mereka ? Marah besarkah
mereka ? atau tak pernah mengertikah mereka dengan perasaan Rindu yang telah
hancur lebur ini ?
Dini berlari ke kamar,
membawa aliran deras air matanya yang
pecah seketika, Rindu seperti kehilangan rasa, walaupun dia sudah menduga apa
yang bakal terjadi. Agus memandangnya dengan sebuah kebencian yang mulai
tejalin, hanya Rian yang masih diam membisu dan Rindu berusaha tegar menerima
ini semua.
*************************
Pagi ini dingin sekali, terasa ngilu dan sakit
menusuk-nusuk dada setelah semalaman dilanda hujan, hujan badai rumah tangga
Rindu. Mas Dani tak beranjak dari kamar tidurnya sampai pagi ini. Dia sudah
mulai mengerti dan menerima apa yang diputuskan Rindu kemarin dihadapan
anak-anaknya. Jika kemarin mas Dani seperti menyesali, pagi ini perlahan-lahan
dia sudah bisa menerima keputusan Rindu yang terjadi karena khilafnya. Hanya saja dia tak
menyangka keputusan itu benar-benar
telak memukulnya.
Rindu menyiapkan kopi susu hangat kesukaan mas Dani dan
sarapan pagi bagi anak-anaknya seperti kebiasaan malam Minggu anak-anaknya yang
telah berkeluarga itu menginap di rumahnya. Matanya sebentar-sebentar meredup
karena mengantuk setelah semalaman tak bisa tidur. Dia ingin menunjukkan bahwa kesetiaan itu tetap ada
sampai pada titik penghabisan
kehidupannya bersama mas Dani, menjalankan tugas sebagai seorang istri dan ibu
yang baik bagi anak-anaknya, karena amal dan ibadah itu akan ia
pertanggungjawabkan sampai di hadapanNya.
Rindu menunggu mereka
dimeja makan, namun tak kunjung ada yang datang, tak juga cucu-cucunya yang
imut dan lucu.
Lima belas menit berlalu….. dan
satu jam terlewati akhirnya Rindu benar-benar tertidur menghadapi nasi goreng
yang mulai habis kepulan asapnya. Ketika terbangun suasana di sekeliling sepi, seperti terbangun ditengah malam buta.
Rindu merinding membayangkan hari-hari yang akan dilalui selanjutnya.
Mungkinkah Rindu akan ditinggalkan oleh anak-anaknya, oleh suami yang selama
ini sebagai sandaran hidupnya, yang ia puja sebagai suami yang sangat
mencintainya, menyayanginya, yang selalu setia dalam suka dan duka dan ……………oh
Tuhan…… haruskah ini terjadi……..salahkah aku mengambil langkah ini Tuhan ? …..
Rindu menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya perlahan. Kemudian
berjalan gontai menuju kamar dan melihat
mas Dani duduk dipinggir jendela. Mata mas Dani jauh menerawang. Rindu membuang
sedikit demi sedikit luka yang ada di hati bersama hembusan nafas dan
dikumpulkannya sisa sisa keberanian untuk menghadapi mas Dani.
“ Mas, semua sudah terjadi, dan mas tak perlu menyesali
dan mengkhawatirkan kehidupanku kelak. Aku hanya ingin berterima kasih selama
ini mas begitu menyayangi aku, memperhatikanku, aku hanya ingin mas lebih
tenang menjalani hidup kedepan karena tanggung jawab mas yang lebih besar telah menunggu, seperti halnya
aku harus bertanggung jawab atas diriku sendiri, setelah selama ini aku terlalu
manja. Sekarang aku baru menyadari tak selamanya aku harus bergantung dengan
mas, tidak bisa seperti dulu, aku ikhlaskan semua yang sudah terjadi.
Anak-anakpun sudah punya kehidupan sendiri, akau tahu ini sakit tapi akan lebih
sakit bila ini terus berlangsung. Mulailah dengan hidup baru, mulailah dengan
keikhlasan, tak ada penyesalan dan tak ada keraguan “.
“ Maafkan aku bu ..!!!! “ , mas Dani menyeruduk memeluk
kaki Rindu sekuat mungkin dan menangis sesenggukan. Rindu tak mengerti apa yang
diinginkan mas Dani. Semakin kuat mas
Dani memeluk kakinya semakin kuat keinginnannya, semakin bulat tekadnya. Rindu
tak ingin lagi memikirkan yang lain, dia hanya ingin terlepas dan tenang.
Perlahan air matanya turun membasahi pipi yang mulai layu dimakan waktu.
Mungkinkah ini tangisan terakhir yang ia persembahkan untuk mas Dani, tangisan
terakhir menutup masa lalunya bersama mas Dani yang akan ia tinggalkan. Mas
Dani yang ia cintai sepenuh jiwa, orang yang sangat ia harapkan sebagai
sandaran hidup saat ini dan menuntunnya
kelak ketika ia akan menghadap
sang Khalik. Sehingga cinta mereka terbawa sampai akhir hayat. Betapa
indahnya seandainya itu semua terjadi.
Apakah mungkin dia bisa berlaku bijak sebijak keinginan yang terpendam jauh
dilubuk hati. “ Aku manusia Tuhan…. Yang
masih punya perasaan sakit hati yang tak bisa kubuang, walaupun yang terucap
telah memaafkan, tapi aku tak bisa menghadapi semua ini “.
“ Sudahlah mas, semua sudah
aku ikhlaskan “ akhirnya Rindu bersuara juga.
“ Tapi….. “
“ Sudahlah, barangkali ini
sudah suratan tangan kita,mas “. Dan selanjutnya yang ada hanya kebisuan
disela-sela isak tangis mas Dani yang semakin mengharu biru.
*******************************
Hari ini adalah penentuan bagi Rindu, dadanya seperti
sesak dak bisa bernafas. Lagi-lagi ada rasa sakit yang menyelinap di sela
rongga dada.
Bak seorang selebritis dia
memasuki ruang yang seumur hidup baru kali ini dilihatnya, dua pasang mata
anaknya yang menunggu seperti dua ribu pasang mata menatapnya tajam dan menghujatnya
dengan sebuah pertanyaan “Apakah ini
benar-benar akan terjadi ? “.
Rindu tertunduk lesu, belum
terlihat mas Dani hadir setelah semalaman dia tak pulang dan aku tak ingin
menanyakan dia tidur dimana. Dengan mengumpulkan berjuta ketenangan Rindu duduk
diam menunggu, keringatnya mengucur deras, tak tertepis dengan tangannya yang
dingin menyekanya. Orang-orang yang duduk di kanan kirinya bagaikan hendak
mencercanya. Kakinya gemetar seperti tak ingin lagi menapak di bumi.
“ Oh Tuhan…… tuntun aku untuk selalu menyebut namaMu dan
memujiMu, agar aku kuat menghadapinya “.
Suara Hakim yang terus membacakan lembar keputusan bagaikan guntur yang terus menerus menggemuruh di dadanya
“
Subhanallah….subhanallah….. Allahu Akbar…. Tuhan bimbing aku terus
Tuhan….jangan lari dariku Tuhan…..Rindu terus membatin, dan ketika saat saat
akhir hampir berakhir , suara hakim benar-benar sebuah halilintar yang menghunjam
jantung Rindu dan selanjutnya dia tak tahu apa yang terjadi…….
*******************8
Rindu menatap ketiga anaknya yang berkumpul di ruangan.
Mas Dani terlihat menangis menyebut kata maaf berkali-kali dihadapan anak-anak,
Ketiga menantu dan cucu-cucunya menjauh
keluar ruangan. Rindu semakin tak mengerti dengan apa yang baru terjadi. Mereka
tak menghiraukan sama sekali kehadiran Rindu ditengah-tengah mereka.
“ Sudah begitu bencikah
mereka terhadapku ?, Mengapa mereka tak menyapaku ?”
“ Siapakah dia yang duduk
di sebelah mas Dani ? “.
Lambat-lambat Rindu
menyimak pembicaraan mereka yang diiringi isak tangis Dini.
“ Rupanya ini yang
menyebabkan ibu berbuat nekad ingin berpisah dengan Bapak ? sampai hati bapak
mengkhianati ibu……..”
“ Tapi bapak khilaf saat
itu…….. bapak sangat menyesal……!!!!!! “.
Dini berlari keluar, Mas
Dani mengejar disusul oleh perempuan yang tak kukenal itu. “ Dini…… tante minta
maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian ini …. “.
Rindu tak kuasa lagi menyimaknya dan ingin berlari sekuat
mungkin, tubuh Rindu terbang melayang menjauhi anak-anak dan suaminya dan
sampai pada tempat yang jauh dan tenang. Ada
kesunyian di sana.
Tempat yang selama ini ia harapkan, tempat yang selalu ia sebut-sebut dihadapan
suaminya. Tak ada lagi mas Dani, tak ada lagi Rian, Dini dan Agus di
sampingnya. Tak ada lagi orang-orang yang dicintainya. Tak ada lagi orang-orang
yang sangat dirindukannya, karena Rindu telah menemukan kerinduan yang abadi
yaitu kerinduan Rindu terhadap Tuhannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar