Senin, 17 Februari 2014




C  E  R  A  I



            Ditatapnya  diam diam wajah mas Dani. Rindu tak bisa mengartikan apa yang tersirat di wajah mas Dani saat itu. Perasaan bingung, marah, sedih dan entah apa lagi setelah dia mengucapkan kata demi kata dari bibirnya yang terpoles tipis oleh gincu merah muda. Dialihkannya pandangan pada ketiga anaknya Rian, Dini dan si bungsu Agus yang baru saja melangsungkan pernikahannya 3 bulan yang lalu. Mereka tertunduk lesu dengan sejuta kecamuk dalam dada. Rindu memahami perasaan mereka terhadapnya, walaupun beberapa hari yang lalu mereka sudah diberi bayangan tentang hal ini.

            “ Ibu hanya ingin ketenangan dimasa tua ibu, ibu telah mengantarkan kalian sampai ke gerbang kehidupan kalian yang baru, berarti tanggung jawab membesarkan kalian sudah berakhir, dan kini sudah ada yang lebih bertanggung jawab daripada ibu dan bapak dalam kehidupan kalian “.

            Mas Dani  masih diam membisu, dan Rindu belum berani untuk memancingnya berbicara, seandainya dinding-dinding ruang keluarga yang dijadikan tempat berkumpul saat ini dapat bergerak mungkin hanya Rindu yang akan dihimpitnya karena kemarahan terhadap seorang ibu yang memberikan keputusan tidak masuk akal bagi anak-anaknya.

Dengan gerak lesu mas Dani beranjak dari duduknya dan berjalan gontai menuju teras samping seperti sebuah robot yang berjalan tanpa tenaga.

“ mas, mau kemana ? “

Mas Dani menoleh sesaat  tanpa ekspresi dan terus berjalan ke bawah pohon rambutan dan duduk dibangku kayu yang dibuatnya setengah tahun lalu untuk mereka berdua duduk bersantai menunggu waktu.

“ Ibu sudah membuat kami malu ! “, ibu tak punya perasaan, apa yang ada di pikiran ibu sehingga senekad ini, ibu tidak kasihan dengan bapak ?! “, dengan kami, dengan cucu-cucu ibu, dengan keluarga yang lain….. ibu tidak serius mengatakan ini kan ?! “ seketika Dini meronta dari cengkraman kemarahan, meledak-ledak seperti lumpur panas yang keluar dari perut bumi, meluncur dan memercik ke kanan kiri, sehingga Rindu yang berada disampingnya seperti lebur dan tergigit oleh percikan panas kemarahan.

Terasa nyeri didalam dada, Rindu seperti dipukul oleh anaknya sendiri, kecewakah mereka ? Marah besarkah mereka ? atau tak pernah mengertikah mereka dengan perasaan Rindu yang telah hancur lebur ini ?

Dini berlari ke kamar, membawa aliran deras air matanya  yang pecah seketika, Rindu seperti kehilangan rasa, walaupun dia sudah menduga apa yang bakal terjadi. Agus memandangnya dengan sebuah kebencian yang mulai tejalin, hanya Rian yang masih diam membisu dan Rindu berusaha tegar menerima ini semua.





                                            *************************







            Pagi ini dingin sekali, terasa ngilu dan sakit menusuk-nusuk dada setelah semalaman dilanda hujan, hujan badai rumah tangga Rindu. Mas Dani tak beranjak dari kamar tidurnya sampai pagi ini. Dia sudah mulai mengerti dan menerima apa yang diputuskan Rindu kemarin dihadapan anak-anaknya. Jika kemarin mas Dani seperti menyesali, pagi ini perlahan-lahan dia sudah bisa menerima keputusan Rindu   yang  terjadi karena khilafnya. Hanya saja dia tak menyangka keputusan itu  benar-benar telak memukulnya.  

            Rindu menyiapkan kopi susu hangat kesukaan mas Dani dan sarapan pagi bagi anak-anaknya seperti kebiasaan malam Minggu anak-anaknya yang telah berkeluarga itu menginap di rumahnya. Matanya sebentar-sebentar meredup karena mengantuk setelah semalaman tak bisa tidur.  Dia ingin menunjukkan bahwa kesetiaan itu  tetap  ada  sampai pada titik penghabisan kehidupannya bersama mas Dani, menjalankan tugas sebagai seorang istri dan ibu yang baik bagi anak-anaknya, karena amal dan ibadah itu akan ia pertanggungjawabkan sampai di hadapanNya.

Rindu menunggu mereka dimeja makan, namun tak kunjung ada yang datang, tak juga cucu-cucunya yang imut dan lucu.

Lima belas menit berlalu….. dan satu jam terlewati akhirnya Rindu benar-benar tertidur menghadapi nasi goreng yang mulai habis kepulan asapnya. Ketika terbangun suasana di sekeliling  sepi, seperti terbangun ditengah malam buta. Rindu merinding membayangkan hari-hari yang akan dilalui selanjutnya. Mungkinkah Rindu akan ditinggalkan oleh anak-anaknya, oleh suami yang selama ini sebagai sandaran hidupnya, yang ia puja sebagai suami yang sangat mencintainya, menyayanginya, yang selalu setia dalam suka dan duka dan ……………oh Tuhan…… haruskah ini terjadi……..salahkah aku mengambil langkah ini Tuhan ? ….. Rindu menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya perlahan. Kemudian berjalan gontai menuju kamar  dan melihat mas Dani duduk dipinggir jendela. Mata mas Dani jauh menerawang. Rindu membuang sedikit demi sedikit luka yang ada di hati bersama hembusan nafas dan dikumpulkannya sisa sisa keberanian untuk menghadapi mas Dani.

            “ Mas, semua sudah terjadi, dan mas tak perlu menyesali dan mengkhawatirkan kehidupanku kelak. Aku hanya ingin berterima kasih selama ini mas begitu menyayangi aku, memperhatikanku, aku hanya ingin mas lebih tenang menjalani hidup kedepan karena tanggung jawab mas yang  lebih besar telah menunggu, seperti halnya aku harus bertanggung jawab atas diriku sendiri, setelah selama ini aku terlalu manja. Sekarang aku baru menyadari tak selamanya aku harus bergantung dengan mas, tidak bisa seperti dulu, aku ikhlaskan semua yang sudah terjadi. Anak-anakpun sudah punya kehidupan sendiri, akau tahu ini sakit tapi akan lebih sakit bila ini terus berlangsung. Mulailah dengan hidup baru, mulailah dengan keikhlasan, tak ada penyesalan dan tak ada keraguan “.

            “ Maafkan aku bu ..!!!! “ , mas Dani menyeruduk memeluk kaki Rindu sekuat mungkin dan menangis sesenggukan. Rindu tak mengerti apa yang diinginkan  mas Dani. Semakin kuat mas Dani memeluk kakinya semakin kuat keinginnannya, semakin bulat tekadnya. Rindu tak ingin lagi memikirkan yang lain, dia hanya ingin terlepas dan tenang. Perlahan air matanya turun membasahi pipi yang mulai layu dimakan waktu. Mungkinkah ini tangisan terakhir yang ia persembahkan untuk mas Dani, tangisan terakhir menutup masa lalunya bersama mas Dani yang akan ia tinggalkan. Mas Dani yang ia cintai sepenuh jiwa, orang yang sangat ia harapkan sebagai sandaran hidup saat ini dan menuntunnya  kelak  ketika ia akan menghadap sang Khalik. Sehingga cinta mereka terbawa sampai akhir hayat. Betapa indahnya  seandainya itu semua terjadi. Apakah mungkin dia bisa berlaku bijak sebijak keinginan yang terpendam jauh dilubuk hati. “ Aku manusia  Tuhan…. Yang masih punya perasaan sakit hati yang tak bisa kubuang, walaupun yang terucap telah memaafkan, tapi aku tak bisa menghadapi semua ini “.

“ Sudahlah mas, semua sudah aku ikhlaskan “ akhirnya Rindu bersuara juga.

“ Tapi….. “

“ Sudahlah, barangkali ini sudah suratan tangan kita,mas “. Dan selanjutnya yang ada hanya kebisuan disela-sela isak tangis mas Dani yang semakin mengharu biru.





                                       *******************************





            Hari ini adalah penentuan bagi Rindu, dadanya seperti sesak dak bisa bernafas. Lagi-lagi ada rasa sakit yang menyelinap di sela rongga dada.

Bak seorang selebritis dia memasuki ruang yang seumur hidup baru kali ini dilihatnya, dua pasang mata anaknya yang menunggu seperti dua ribu pasang mata menatapnya tajam dan menghujatnya dengan sebuah pertanyaan  “Apakah ini benar-benar akan terjadi  ? “.

Rindu tertunduk lesu, belum terlihat mas Dani hadir setelah semalaman dia tak pulang dan aku tak ingin menanyakan dia tidur dimana. Dengan mengumpulkan berjuta ketenangan Rindu duduk diam menunggu, keringatnya mengucur deras, tak tertepis dengan tangannya yang dingin menyekanya. Orang-orang yang duduk di kanan kirinya bagaikan hendak mencercanya. Kakinya gemetar seperti tak ingin lagi menapak  di bumi.

            “ Oh Tuhan…… tuntun aku untuk selalu menyebut namaMu dan memujiMu, agar aku kuat menghadapinya “.  Suara Hakim yang terus membacakan lembar keputusan  bagaikan guntur yang terus  menerus menggemuruh di dadanya

“ Subhanallah….subhanallah….. Allahu Akbar…. Tuhan bimbing aku terus Tuhan….jangan lari dariku Tuhan…..Rindu terus membatin, dan ketika saat saat akhir hampir berakhir , suara hakim  benar-benar sebuah halilintar yang menghunjam jantung Rindu dan selanjutnya dia tak tahu apa yang terjadi…….





                                               *******************8







            Rindu menatap ketiga anaknya yang berkumpul di ruangan. Mas Dani terlihat menangis menyebut kata maaf berkali-kali dihadapan anak-anak, Ketiga menantu dan cucu-cucunya  menjauh keluar ruangan. Rindu semakin tak mengerti dengan apa yang baru terjadi. Mereka tak menghiraukan sama sekali kehadiran Rindu ditengah-tengah mereka.

“ Sudah begitu bencikah mereka terhadapku ?, Mengapa mereka tak menyapaku ?”

“ Siapakah dia yang duduk di sebelah mas Dani ? “.

Lambat-lambat Rindu menyimak pembicaraan mereka yang diiringi isak tangis Dini.

“ Rupanya ini yang menyebabkan ibu berbuat nekad ingin berpisah dengan Bapak ? sampai hati bapak mengkhianati ibu……..”

“ Tapi bapak khilaf saat itu…….. bapak sangat menyesal……!!!!!! “.

Dini berlari keluar, Mas Dani mengejar disusul oleh perempuan yang tak kukenal itu. “ Dini…… tante minta maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian ini …. “.



            Rindu tak kuasa lagi menyimaknya dan ingin berlari sekuat mungkin, tubuh Rindu terbang melayang menjauhi anak-anak dan suaminya dan sampai pada tempat yang jauh dan tenang. Ada kesunyian di sana. Tempat yang selama ini ia harapkan, tempat yang selalu ia sebut-sebut dihadapan suaminya. Tak ada lagi mas Dani, tak ada lagi Rian, Dini dan Agus di sampingnya. Tak ada lagi orang-orang yang dicintainya. Tak ada lagi orang-orang yang sangat dirindukannya, karena Rindu telah menemukan kerinduan yang abadi yaitu kerinduan Rindu terhadap Tuhannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar